Cowok pemegang kamera canon itu terus saja menatapku dan bahkan, ia
mengambil gambarku tanpa meminta izin terlebih dulu padaku. Cowok itu
terus saja menyorotkan kameranya ke arahku. Ia berdiri tak jauh dari
tempatku berdiri, bersama seorang temannya yang sebaya dengannya.
Begitupun aku, yang tengah bersama Evi, sahabatku.
“Dea… bangun!” suara mama membangunkanku. Membuyarkan semua mimpi
indahku. Ini memang sudah ke 5 kalinya terjadi pada mimpiku. Mimpi
tentang seorang cowok yang sebelumnya tidak pernah ku kenal. Jangankan
mengenalnya, melihatnya saja tidak pernah. Kecuali dalam mimpiku.
Bayangan itu tak bisa ku musnahkan dalam benakku. Mungkin sebagian
orang akan menganggapku aneh atau bahkan gila, karena jatuh cinta pada
seseorang lewat sebuah mimpi. Ingin sekali aku bisa bertemu dengannya di
kehidupan nyata. Yah, perasaan itu kini menjadi cinta. Dan semenjak
saat itu, aku jadi antusias untuk memiliki sebuah kamera canon.
“Ayo cepat mandi, dan pergi sekolah!” perintah mama.
Aku hanya bisa menuruti perintahnya. Bosan juga sih jadi siswa.
Pagi-pagi buta harus sudah bangun dan buru-buru bersiap-siap berangkat
sekolah agar tidak kesiangan. Tapi, hal membosankan itu akan terlepas
setahun lagi. Sekarang aku sudah duduk di bangku kelas tiga SMA. Sekolah
berkultur islami. Dan hanya satu-satunya di kotaku. The best, kan?
“Dea…” Panggil salah satu temanku, Evi.
“Kebiasaan deh, kalo baru dateng langsung teriak-teriak.” Ujarku.
“Iya sorry. Biar surprice gitu.” Katanya tertawa.
“O ya, semalem aku mimpi…”
“Cowok pemegang kamera itu?” potongnya. Ia memang sudah hafal dengan ceritaku tentang cowok dalam mimpiku itu.
Aku hanya mengangguk pelan.
“Come on girls… itu hanya mimpi. Hanya bunga tidur aja.”
“Tapi, mimpi itu sangat nyata.” Ujarku menjelaskan.
“See… setelah kamu bangun, apa cowok itu ada di samping kamu?”
Aku tak menjawabnya. Karena hal itu hanya akan membuatnya semakin menang
dariku. Aku tau, kalau semua itu hanya sebuah mimpi. Tapi mimpi itu
datang padaku selama 5 kali setelah tadi malam. Dan selama 5 kali
pertemuanku dengannya di alam mimpi, aku telah jatuh cinta padanya.
“Kenapa gak dijawab?” tanyanya mengagetkanku.
“Ya udahlah, kamu emang gak bakalan bisa ngerasain apa yang aku rasain
sekarang.” Ujarku. Lalu aku pergi dari hadapannya. Terdengar ia
memanggilku untuk beberapa kali, namun aku tak menoleh. Aku masih kecewa
dengannya. Aku kira, dengan aku cerita padanya akan membantuku
mencarinya. Tapi, malah sebaliknya, dia sama sekali tidak bisa mengerti
perasaanku sekarang.
Fikiranku tertuju pada cowok itu lagi. Kenapa kamu hanya datang dalam mimpiku? Aku ingin bertemu denganmu di kehidupan nyata.
Malam hari, setelah aku selesai belajar. Mataku merasakan kantuk.
Akhirnya, aku memutuskan untuk beristirahat. Agar besok, bisa bangun
pagi dan gak perlu buat mama marah karena aku susah bangun.
“Kamu anak Bahasa kan?” tanya nya yang membuatku kaget.
“Kok tau?” tanyaku penasaran.
“Aku sering liat kamu kok, di sekolah. Aku anak IPA. Tepatnya, XII IPA
1.” Jelasnya. Aku hanya mengerutkan kening. “O ya, nama kamu siapa?”
“Aku Dea. Kamu?”
Dia tak menjawabnya. Namun, dia memberikan sebuah kartu nama berwarna
biru. Ku buka kartu nama itu untuk mengetahui namanya. Nama seorang
cowok yang membuatku rindu berat padanya. Mataku mulai menusuri setiap
huruf di kertas itu. Dan…
