Pagi ini tak begitu cerah. Aku berdiri tak jauh dari ranjangku
sambil melihat tubuhku yang terbaring koma di atas ranjang rumah sakit
itu. Kulihat juga mama yang duduk di samping tubuhku sambil menggenggam
tangan kananku dan papa yang berdiri sambil memegang bahu mama. Saat itu
juga pikiranku mencoba berlari ke belakang untuk mengingat kembali
putaran perjalanan hidupku yang tak panjang ini.
Bermula dari 4
tahun silam. Saat itu aku duduk di bangku kelas 3 SMP, umurku sekitar 14
tahun. Tak terasa ternyata hanya tinggal menunggu beberapa minggu lagi
bagiku untuk duduk di bangku SMA. Malam itu aku berdiskusi dengan mama
dan papa, kira-kira SMA mana yang akan kumasuki. Usulan demi usulan pun
mulai masuk.
“Bagaimana kalau coba di negri?” Usul papa.
“Bagaimana kalau kamu SMAnya ambil di swasta juga? Lagian dari TK sampai
SMP kamu di swasta, apa salahnya kalau kamu tetap di swasta juga?” Usul
mama.
“Kalau boleh aku ingin di tempat yang lain, ma.. Dari TK aku sudah di situ, aku ingin suasana yang baru?”
“Nk ada benarnya juga, ma? Dari kacil kan, Nk sudah di situ. Pastinya dia juga udah bosan, kan?”
“Ya sudah, terserah kamu saja lah?!” Mama mulai kesal padaku.
“Jangan gitu dong, ma?” Kata papa mencoba membelaku. “Kalau di negri Nk
mau, soalnya di negri biayanya lebih murah.” Kata papa mengulangi
usulannya.
“Bukannya Nk tidak mau, pa. Tapi Nk tidak tertarik dengan perguruan negri..” Kataku dengan kepala tertunduk.
“Apa sich mau kamu?! Cari tempat buat sekolah aja kok susah sih!!” Bentak mama padaku.
“. . . . . . . . . .” Aku hanya diam dengan kepala yang masih tertunduk. Aku tak terlalu suka ribut dengan mama.
“Kalau begitu SMA Santos, kamu mau nggak?! Letaknya agak jauh dari sini! Kalau kamu tak mau juga, kamu cari saja sendiri!”
“Iya. Aku mau, ma..”
“Ya sudah. Semua biayanya nanti akan mama selesaikan.” Mata mama menuju
papa, “Papa yang temani Nk mendaftar, ya? Mama harus mengawasi pegawai
yang bekerja di toko pakaian kita.”
“Iya.” Jawab papa singkat.
Malam itu pembicaraan selesai. Untungnya aku tidak perlu harus ribut
dengan mama karena pembicaraan itu. Meski sebenarnya pembicaraan malam
itu sedikit menyakiti perasaanku. (“Tak apa lah, anggap saja sebagai
tanda bakti aku sama mama.”) Pikirku dalam hati malam itu di atas tempat
tidur sesaat sebelum aku terlelap.
Tak terasa minggu demi minggu
pun berlalu. Seperti rencana, papa menemaiku mendaftar, dan urusan
keuangan diselesaikan hari itu juga. Dua minggu kemudian aku sudah masuk
ke SMA itu. Hari itu hari pertama aku masuk SMA. Tapi aku tak tahu,
kalau hari itu juga akan menjadi awal mula pertengkaranku dengan mama.
***********
Sore itu kira-kira jam 06.00, aku baru tiba dirumah, setelah seharian
suntuk di sekolah. Beberapa saat kemudian terdengar suara motor King
papa yang memasuki teras, sambil membonceng mama yang baru pulang dari
toko. Sesegera mungkin aku masuk ke kamarku, dan mengganti seragamku.
Dan dengan segera aku keluar dari kamarku dan membantu membawakan
barang-barang yang dibawa mamaku.
Mama segera mandi, sedang aku
membantu bibik menyiapkan makan malam. Tak lama kemudian makanan sudah
terhidang, aku, kedua orang adikku, beserta mama dan papa sudah duduk di
atas kursi makan. Setelah berdoa bersama, makan malam pun dimulai.
Suasana begitu sunyi meski ada lima orang yang mengelilingi meja makan.
Hal itu membuat hatiku menjadi takut untuk mengutarakan sesuatu hal
yang tadinya sudah kupikirkan didalam bis menuju perjalanan pulang.
(“Ngapain aku takut. Lagian cuma masalah jurusan saja kok. Mama pun,
mungkin tidak terlalu mempermasalahkannya, tapi mungkin papa…. Ya,
sudahlah, tak apa!”) Pikirku dalam hati, mencoba mengusir rasa takutku.
“Ma, minggu depan ujian semester genap udah dimulai.” Kataku sambil
melihat pada wajah mamaku yang tengah menyuapi sendok nasi ke dalam
mulutnya.
“Terus?”
“Nk mau milih jurusan.”
“Jurusan IPA saja!” Respon papa cepat.
“Nk nggak terlalu tertarik dengan IPA, pa. Nk lebih suka jurusan IPS.”
“Ya sudah, terserah kamu, IPS juga bagus, kok?!” Respon mama terhadap pilihanku.
“Alahh Nk! Papa tahu kenapa kamu nggak milih IPA! Karena kamu nggak mampu di IPA, kan?!” Kata papa dengan nada menyindir.
“Masih bagus milih IPS. Dari pada maksain ke IPA, padahal nggak mampu
di IPA.” Kataku sambil melihat papa dengan tatapan menyindir.
“Ya sudah terserah kamu, lah?!” Kata papa dengan suara agak keras, karena merasa tersindir.
Suasana kembali sunyi, yang terdengar hanya suara sendok dan garpu yang
salling beradu di atas piring. Aku melanjutkan makanku, tapi sejurus
kemudian mama menanyakan sesuatu padaku.
“Setelah tamat SMA, kamu mau ngambil kuliah dibidang apa?” Tanya mama sambil memotong steak yang ada dipiringngnya.
“Pinginya sih, dibidang seni, ma.”
“Bidang seni itu ada banyak, bidang seni yang gimana?!”
“Nk suka, mendesain pakaian, merancang rumah, melukis, dan Nk juga suka menulis.” Kataku menuturkan semua hal yang aku sukai.
“Cek, cek, cek!” Mama berdecak. “ Mendesain pakaian ya?. . Mama nggak
yakin kamu bisa sukses. Bagaimana kamu bisa mendesain pakaian dengan
bagus, sedangkan menata pakaian di toko mama saja kamu nggak bisa.”
“Bukannya Nk nggak bisa, ma? Nk kan, nggak ada waktu.” Kataku dengan hati yang sakit mendengar ucapan mama yang pedas.
“Merancang rumah. Mama juga nggak yakin kamu bisa sukses. Bagaimana
kamu bisa jadi perancang yang handal, menata barang-barang yang ada di
rumah saja kamu gak bisa.” Ucap mama kembali, tanpa mau mendengar
alasanku.
“Mama? Nk nggak sempat. Mama kok, bicaranya begitu, sih?
Bukannya kalau lagi liburan, Nk menata rumah dengan baik?” Ucapku,
merasa kesal dengan ucapan mama yang mengerikan itu.
“Iya, tapi cuma kalau liburan saja, kan?!”
“Mama?! Nk nggak ada waktu?!” Aku mulai memberontak.
“Sehabis pulang sekolah kan, bisa!” Kata mama seakan tak mau kalah dengan perlawananku.
“. . . . . . . . .” Kucoba untuk menenangkan hati dan pikiranku, mencoba menahan air mata yang hampir tumpah.
“Kalau menggambar atau melukis, juga kayaknya nggak cocok buat kamu.
Mau kerja dimana kamu? Memangnya ada perusahaan yang mau menerima
seorang pelukis?” Kata mama mencoba meyakinkanku.
“Jadi, mama ingin aku gimana?” Kataku mengalah dengan hati yang dongkol.
“Kalau mama liat sih… kayaknya bahasa Inggris kamu lumayan. Gimana kalau kamu masuk pariwisata saja?”
“Terserah mama lah…” Ucapku dengan suara berat.
Setelah selesai makan, aku membantu bibik membersihkan meja dan piring
kotor. Setelah itu aku pergi menuju kamarku dan segera mandi. Selesai
dari itu, segera kurebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Kulihat
baling-baling kipas angin yang tergantung di langit-langit kamarku
sambil ku putar kembali perjalananku hari ini.
(“Hampir nggak ada
yang menyenangkan, apalagi berkesan”) Pikirku. Segera kupenjamkan mataku
dan merilekskan semua organ-organ tubuhku, serta membuang sejenak
masalah yang menjenuhkan pikiranku. Tak lama kemudian rasa lelah
disekujur tubuhku menghantarku pada tidur yang lelap.
*******
Pagi itu aku sedang berada didalam kelasku yang baru, kelas 2 IPS. Aku
duduk termenung di bangku yang sudah kupilih. Tak lama seorang
mengejutkanku.
“Nk!” Kata orang itu mengejutkanku, sambil menutup kedua mataku.
“Biar kutebak! Iqbaal, kan?!” Tebakku tak ragu.
“Kamu tanda juga ya, sama suara aku?” Iqbaal melepaskan tangannya sambil meletakkan tas dan duduk disampingku.
“Kamu milih IPS, juga?”
“Iya donk?!” Jawabnya dengan mantap. “Kamu sendiri gimana? Kamu nggak
harus ribut dulu kan, sama mama kamu soal jurusan aja?” Lanjutnya.
“Untungnya sih, nggak?! Tapi parahnya, masa depan aku udah diambil alih sama mama?”
“Maksudnya diambil alih?”
“Mama udah nentuin masa depan aku, dia milihin sendiri fakultas buat aku…”
“Terus mama kamu minta kamu di fakultas apa?”
“Pariwisata. Mamaku bilang, kemampuan bahasa Inggris aku lumayan. Jadi aku lebih cocok di bagian pariwisata…”
“Terus kamu nurut?”
“Iya. Soalnya aku malas ribut sama mama. Lagian selama ini, mama udah
besarin aku. Apa salahnya kalau aku sedikit nurut sama kata-katanya.
Sekalian aja sebagai tanda bakti aku..”
“Tapi kan, itu nggak sesuai
dengan cita-cita kamu selama ini?! Lagian kalau mau berbakti, nggak
harus begini juga caranya kan?!”
“Tak apalah bal. Gimanapun juga dia mama aku. Kurang lebih dia pasti lebih tau soal aku, dari pada diri aku sendiri, kan?”
“Aku salut sama kamu! Kamu berpikir dewasa banget. Tapi pasti perasaan kamu saat ini…”
“Udahlah bal, gak usah dibahas lagi.” Ucapku memotong.
Aku kembali merenung, kupikir ulang rencana mama terhadap masa depanku.
(“Rasanya berat juga kalau aku harus menjalaninya berdasarkan keinginan
orang lain, bukan keinginanku. Tapi tak apa lah! Orangtua kan wakil
Tuhan di dunia, jadi apa yang dikehendaki oleh orangtua buat kita, pasti
itu juga yang dikehendaki Tuhan untuk kita… Mungkin. Tapi harapan
terbesar aku, mama bisa tahu kalau aku ngelakuin ini semua hanya
untuknya.”) Ucapku dalam hati, dengan mata yang berkaca-kaca.
Hari itu pun hampir berakhir, dimenit-menit terakhir pak rudi guru
ekonomi sedikit sharing dengan kami untuk membuat pikiran kami rileks
setelah seharian belajar. Entah kenapa pak rudi ingin bertanya soal
cita-cita kami setelah tamat SMA. Hatiku menjadi berat, rasanya aku
ingin berlari keluar dari ruangan itu, menghindari pertanyaan pak rudi.
Tapi tak tahunya, aku malah orang pertama yang ia tanyai.
“Nk, ada rencana buat jadi orang sukses nggak?”
“Ada lah, pak?” Jawabku mencoba santai.
“Nk, ingin jadi apa?”
Detik itu juga aku bagai disambar petir ribuan volt. Dan spontan aku menjawab..
“…Ingin jadi seperti yang diinginkan mama….”
“Kok keinginan mama? Kenapa nggak keinginan kamu?”
Aku diam kembali, air mata mulai berlinang tapi aku takut
meneteskannya. Kukedip-kedipkan kedua mataku dengan kepala tertunduk,
mencoba mengeringkan air mata yang bersebar di bola mataku. Iqbaal yang
mengerti parasaanku, langsung mengalihkan perhatian pak rudi terhadapku.
“Pak, udah donk?! Masa Nk terus yang ditanyain?! Gantian donk, pak?”
ngambek rizki berpura-pura merasa tidak adil. Dan yang lainnya turut
mengatakan hal yang sama.
“Oke. Oke sabar ya?!” Pak rudi menanggapi cepat permintaan yang lainnya. Segera pak rudi berpindah ke sisi kelas yang lainnya.
“Nk, kamu gak apa kan?”
“Gak kok. Thank’s ya?”
Sesaat kemudian lonceng pulang berbunyi. Aku pulang bareng rizki,
selama di bis tak satupun kata kuucapkan pada rizki, sampai saat aku
turun dari bis itu. Setibanya aku dirumah, aku tak melihat motor papa.
(“Apa mungkin papa nggak dirumah, ya?”. Aku masuk ke dalam rumah,
kulihat adikku sedang makan sambil menonton tv. Segera kutanyakan
kebaradaan papa.
“bas, papa mana?”
“Papa sama mama lagi keluar kak. Katanya mereka pulang agak malam.” Jawab adikku paling kecil, aldi, sebelum bastian menjawab.
“Ohh….”
Entah kenapa, perasaanku menjadi sangat senang ketika kudengar papa dan mama akan pulang malam.
(“Kenapa aku ini? Kenapa aku senang mereka tak ada dirumah. Ha! Ha!
Ha!”) Aku tertawa geli dalam hatiku. (“Mungkin karena terkadang aku
merasa tak tahan bersama mereka.”) Ucapku kembali dalam hati.
*******
(“Gak terasa ya, aku sudah kelas 3. Bentar lagi harus ngadapi UN dan
selanjutnya harus melaksanakan keinginan mama.”) Ucapku dalam hati, yang
saat itu aku berada di kamar. Malam ini aku tidur, tanpa mengisi
perutku dengan makan malam.
Esoknya tepat pada hari Minggu,
seperti biasa aku akan pergi ke arisan -__- bersama keluargaku. Semua
orang yang ada dirumahku sudah bangun tepat pukul 08.00, kecuali aku.
Entah kenapa badanku terasa tak enak, kepalaku sangat barat. Kucoba
keluar dari kamarku dan duduk di kursi. Kulihat mereka semua
mondar-mandir ke sana-sini, sibuk dengan diri mereka masing-masing. Mama
yang merasa heran melihatku, langsung bertanya padaku.
“Kenapa kamu belum siap-siap? Kami semua sudah mau berangkat, apa kamu pergi sendiri?”
“Minggu ini, Nk nggak bisa pergi ma. Nk lagi gak enak badan.”
“Apa kamu bilang? Jangan coba-coba kamu gak pergi. Jangan kamu buat
mama malu dihadapan orang lain. Kamu ingat kan sekarang apa jabatan mama
di sana?” Kata mama mencoba mengingatkan kembali soal jabantannya
sebagai bendahara.
“Tapi ma, Nk lagi benar-benar gak enak badan.” Ucapku pelan.
“Kamu ingin melawan mama?! Pokoknya jangan sampai mama gak liat kamu
ada di sana. Awas kalau kamu coba-coba ya?! Udah! Kami pergi duluan,
kamu pergi saja sendiri!” Bentak mama, sambil beranjak dari rumah
bersama yang lainnya.
Hatiku benar-benar sakit mendengar ucapan
mama yang mengerikan itu. Aku tak bisa lagi menahan air mataku.
Kutumpahkan sebanyak mungkin air mataku, sambil berucap dengan pelan.
“Mama, hanya untuk menjaga harga dirimu, kau mengorbankan aku. Apa
sebegitu tak berharganyakah aku dihadapanmu? Mana sosok ibu yang lembut
yang selama ini kudengar dari orang-orang? Aku sama sekali tak melihat
kelembutan darimu. Apa mama tidak tahu, selama ini aku mencoba untuk
mengerti mama? Tapi kenapa tak sekalipun mama bisa melihat hatiku yang
tulus menyayangi mama? Mengapa tak sekalipun mama bisa mengerti aku?….
Tuhan.. aku sudah lelah dengan semua ini.. Jika boleh, bawalah aku bersamaMu saat ini juga….”
Seketika itu juga tubuhku roboh dan terpisah dari roh ku. Aku tersentak
kaget, karena aku bisa melihat tubuhku yang tergeletak di kursi. Segera
aku berdiri dan mengambil jarak dari tubuhku. Rasa penasaranku
membuatku mencoba untuk mendekati tubuhku dan menyentuhnya. Aku
benar-benar ketakutan karena aku tak bisa menyentuh tubuhku.
Tapi
tiba-tiba, ruangan dipenuhi cahaya yang menyilaukan mataku. Setelah
cahaya itu menghilang, aku membuka mataku perlahan dan aku sangat
terkejut ketika kulihat dihadapanku telah berdiri seorang anak kecil
tanpa rambut yang mengenakan baju putih yang bersih.
“Kamu siapa?” Tanyaku sedikit takut.
“Aku malaikat utusan. Aku datang untuk menjemput kamu, Nk.” Katanya
dengan lembut dan penuh senyum padaku, dipadu dengan wajahnya yang teduh
membuatku tidak merasa takut padanya.
“Banarkah?” Kataku lega. Aku tak tahu kenapa, tapi aku merasa percaya kalau dia benar-benar malaikat.
“Tuhan mengerti perasaanmu. Kamu adalah anak yang baik, dan Ia sangat
mengasihimu. Ini sudah waktunya kamu meninggalkan dunia ini. Apa kamu
siap untuk pergi sekarang bersamaku? Sebab Dia sudah menunggu kamu di
atas sana.”
“Apa bisa menunggu sebentar lagi? Aku hanya ingin melihat keluargaku sebentar saja.”
“Baiklah. Kalau itu keinginan kamu.”
Aku dan malaikat itu berbincang-bincang. Aku merasa senang bersamanya.
Tak terasa papa dan mama sudah pulang. Mama mulai memanggilku dengan
suara yang keras dan penuh geram.
“Tak baik dekat-dekat dengan
mereka. Mari kita menjauh dan melihat dari atas saja.” Kata malaikat itu
menggenggam tanganku dan membawaku melayang.
“Nk! Dimana kamu! Kamu
benar-benar melawan mama, ya?!” Mama mulai berjalan memasuki rumah, dan
dengan segera ia melihat tubuhku yang tergeletak di atas kursi. Mama
mengira aku masih tertidur.
“Nk bangun kamu!!” Lanjut mama sambil
menggoncang-goncang tubuhku. Tapi tubuhku yang hampir tak bernyawa itu
tak kunjung bergerak.
Mama yang mulai merasa cemas dan segera
memanggil papa. Papa, mama, dan adik-adikku segera membawaku kerumah
sakit. Aku dan malaikat itu mengikuti mereka dari atas. Setibanya di
rumah sakit, tubuhku langsung dibawa ke ruang gawat darurat. Segera
tanganku dipasang jarum infus, dan hidungku dipasang selang oksigen.
Dokter memberi tahu mama, kalau aku dalam keadaan koma.
Mama
segera duduk di sampingku sambil menggengggam tangan kananku, dan papa
berdiri dengan memegang bahu mama. Sedang aku bersama malaikat itu masih
berdiri di samping tubuhku yang terbaring koma. Pikiranku berhenti
berlari, putaran perjalanan hidupku hanya sampai hari ini, di pagi yang
masih tak terlihat cerah.
Lalu malaikat itu menjulurkan tangan kanannya padaku.
“Mari kita sudahi semua ini?” katanya dengan senyum.
“Ya.” Jawabku dengan menyambut tangan malaikat itu di pagi yang masih tak terlihat begitu cerah.
